Skip to main content

Posts

Seoul International Cartoon and Animation Festival 2009, Part 4

Foto-foto dari SICAF 2009, COEX, Seoul

Seoul International Cartoon and Animation Festival 2009, Part 3

Foto-foto dari SICAF 2009, COEX, Seoul

Seoul International Cartoon and Animation Festival 2009, Part 2

Foto-foto dari SICAF 2009, COEX, Seoul

Seoul International Cartoon and Animation Festival 2009, Part 1

Foto-foto dari SICAF 2009 di COEX, Seoul

Name of Girl for Song Title

Banyak para penyanyi pria memuja muja wanita sehingga judul lagunya pun mengambil nama wanita.. Maria, Julius Sitanggang Lenny, Chrisye Camelia, Ebiet G Ade Carrie, Europe Lea, Toto Rosanna, Toto Hollyanna, Toto Pamela, Toto Joanna, Kool and The Gang Billy Jean, Michael Jackson (Oh) Yoko, John Lennon Julia, The Beatles Rudy, Leon Haines Band Aubrey, Bread Suzanna, Art Company Mandy, Barry Manilow Lucy (in the Sky with Diamonds), The Beatles Eleanor Rigby, The Beatles (Hey) Jude, The Beatles (Sexy) Sadie, The Beatles Isabella, Search Laura, Pandu (adiknya Bayu something yang nyanyi lagu Kring Kring Goes Goes) Mrs. Robinson, Simon and Garfunkel My Bonnie (Lies Over The Ocean), folk song (?) (Lovely) Rita, The Beatles Nikita, Elton John My Sharona, The Knack (Come On) Eileen, Dexys Midnight Runners Sandy, John Travolta (dari musikal Grease) Candy, Horie Mitsuko (dari anime Candy Candy) Maria, Santana Sementara vice versa, penyanyi wanita pun ada juga yang menyanyikan lagu berjudul nama pr...

Hoenam, The Other Side of Daecheong Lake

Demikian nama tokonya.. aneh sekali... Sehubungan bakar-bakaran ayam di KAIST palsu mendadak dibatalkan, jadi saya putuskan jalan-jalan ke Secheon Park di kaki gunung Sikjang yang katanya ada danau dan pepohonan indah. Dengan berangan-angan duduk bersantai di sisi danau sambil memandang cewek korea ber-hotpants suasana alam yang segar, nyatanya sisi danaunya berupa tebing yang ditumbuhi pepohonan dan semak belukar, sehingga apa yang ada dalam angan-angan hanyalah impian semata. Akhirnya diputuskan untuk meneruskan perjalanan ke ujung bis kota Daejeon dua digit. Bis kota dengan nomor rute dua digit diberi nama "maeul bus" alias bis desa, sebagaimana namanya, menghubungkan kota Daejeon dengan desa-desa kecil di sekitarnya. Dari Secheon Park, kita bisa naik bis nomer 63. Setelah meyakinkan pak supir bahwa saya tidak salah jurusan, bukan mau ke Daejeon tapi ke ujung bis yang satu lagi, akhirnya pak supir membawa kami menjalani rute bis 63, sebagian besar di sisi sebelah selatan ...

5 Recommendations of Culinary, Daejeon

Jikalau anda sempat-sempatnya mengunjungi kampung sawah besar di tengah-tengah semenanjung Korea, saya rekomendasikan untuk memuaskan hawa nafsu duniawi anda di lima tempat berikut ini: 1. Sindo Kalkuksu Restoran kalkuksu yang terletak di pelosok Eunhaengdong, sekitar beberapa ratus meter saja di sekitar Daejeon station. Di dinding restoran digantung beberapa mangkok yang digunakan di restoran itu sejak tahun 50an, mulai dari mangkok yang mirip baskom kecil dari kaleng, hingga mangkok metal yang digunakan saat ini. Kuah supnya (kuksu) menggunakan resep turun temurun yang diciptakan oleh si harmoni pendiri restoran, sebagaimana ditampilkan di dinding sebelah lain dari restoran. Menu utamanya adalah satu mangkuk kalkuksu, yaitu mih dengan kuah dengan kaldu ikan, seharga 3,500 won. Kita juga bisa memesan dubuduri chigi, yaitu dubu (tahu), bawang2an, dan cumi-cumi yang dimasak dalam kuah pedas seharga 7,000 won. Selain memakannya secara terpisah, dubuduri chigi juga bisa ditambah...

Seonyu Island

Karena sudah terasa musim panas, jadi mencoba jalan-jalan ke pantai, malah keterusan ke pulau. Pulau bernama Seonyu-do ini terletak di lepas pantai kota Gunsan, sekitar 1,5 jam perjalanan naik mugunghwa dari Seodaejeon, sedangkan pulaunya sendiri sekitar 1,5 jam perjalanan naik ferry dari Gunsan terminal. Di Seonyu-do kita bisa menyewa sepeda buat keliling pulau plus mengunjungi pulau-pulau di sekitarnya yang dihubungkan dengan jembatan. Pantainya sendiri tidak seputih dan sebiru di Jeju (apalagi di Bali, katanya sih, saya kan belum pernah ke Bali) dan cukup sulit menemukan makanan selain sea food mentah. Saatnya berhemat... -_-

Bis kota Daejeon

Melupakan sejenak hidden Markov model...saya ingin sedikit cerita tentang bis kota di Daejeon. Di negri serba teratur ini (kecuali ajuma-ajuma yang suka nyebrang jalan sembarangan ^^;;;), transportasi umum lumayan nyaman digunakan. Terutama bis kota, yang nyaris jadi mobil pribadi saya buat jalan-jalan keliling kota walaupun tak sampai bisa duduk di samping pak supir yang sedang bekerja mengendarai bis supaya baik jalannya. Rute bis kota Daejeon boleh dibilang mirip rute angkot di Bandung: dari tengah kota sampai ke pinggir kota, dari tengah gunung sampai ke pinggir sungai, semua ada. Tentu saja, untuk beberapa rute kita harus transit (cieh, transit) dari satu rute ke rute lain, juga terkadang harus jalan beberapa puluh meter untuk mencapai halte bis terdekat, termasuk juga menunggu bis nya datang. Untungnya bis kota Daejeon lumayan tepat waktu. Di hampir tiap halte kita bisa melihat bus apa yang akan datang berapa menit lagi dan posisi terakhir ada di mana. Kebanyakan bis datang sek...

Cheongnamdae, Presidential Retreat

Seperti di Indonesia, presiden Korea pun punya tempat2 peristirahatan di luar ibu kota. Kalau yang satu ini letaknya di tengah hutan, di kaki gunung, di pinggir danau (semuanya nyampur, bingung dah..). Tempat bernama Cheongnamdae ini letaknya sekitar 30 menit (20 menit kalau sopir nya ngebut) dari kota kecil Muneui di sisi sebelah utara danau Daecheong, sekitar 20 km lebih dari Daejeon. Untuk menyambangi Cheongnamdae, kita mau tak mau harus menaiki bis yang khusus disediakan dari Muneui ke sana, tersedia setiap 20 menit, karena aturannya demikian. Ongkos pulang pergi 2,400 won dan tiket masuknya sendiri 5,000 won. Pergi ke Muneui sendiri cukup merepotkan kalau gak punya kendaraan sendiri. Mesti naik bis desa Cheongju yang tersedia 1 jam sekali dari Sintanjin, sebelah utara Daejeon. Si Cheongnamdae ini dulunya tempat presiden Korea menikmati libur musim panas, tapi kemudian dibuka untuk publik oleh presiden Roh (serem banget namanya). Begitu turun bis, kita akan disambut guide yang menj...

(maksudnya pergi ke) Floritopia 2009

Tapi namun apa daya nasib tidak beruntung. Tadinya diajak kunjungan gratis ke Floritopia di Anmyeon-do dari Asan, bareng para pekerja2 Korea, Filipina, Bangladesh, etc etc (Indonesia juga). Ternyata malah mutar balik gara2 macet, akhirnya diarahkan ke pantai (sekitar Anmyeon-do sepertinya, tapi entah di mana) dimana sebuah Tanah Lot-wannabe berada dan dilanjutkan ke gunung entah apa di sekitar sana juga. Plus menyaksikan 2 kakek-kakek Korea brengsek yang mabok di dalam bis yang teriak-teriak minta norebang akhirnya diturunkan di tengah jalan. Memang alkohol itu sumber dari segala maksiat...

Bomun Mountain

Sehubungan hari ini hari anak nasional (Korea) dan tidak hujan, maka saya putuskan untuk jalan-jalan hiking di gunung. Kali ini korbannya adalah gunung Bomun (Bomunsan) di selatan Daejeon yang punya dua puncak (alias dua gazebo di titik paling atas) yang satu puncak Bomunsan-nya, yang satu lagi Bomunsan Fortress (Bomunsan-seong). Jaraknya masing-masing terpisah 1.2 km. Di kaki gunung ada plaza tugu pahlawan mengenang para pejuang PBB merebut Daejeon dari cengkraman Korut. Dan di bawahnya lagi ada tempat wisata (amusement park) plus taman renang seperti Karang Setra, yang dua2nya sudah dismissed, hanya tinggal kenangan, termasuk gondolanya. Waktu tempuh: 4 jam sahaja pulang pergi (+ ambil napas, makan tomat, foto2). Pulangnya salah naik bis, menyasarkan diri di depot subway Daejeon.

Seoul Motor Show, The Girls

Warning: banyak udel dan paha, jadi kalau tidak berkenan di skip saja entry ini

Seoul Motor Show

Kunjungan ke Seoul Motor Show di Kintex, di ujung line 3 di Daehwa, nun jauh di sana. Setelah menempuh jalan darat 30 menit dari dorm ke stasiun bis Daejeon, lalu 1.5 jam naik bus dari Daejeon ke Gangnam, dilanjutkan naik subway selama 1 jam lebih dari Gangnam akhirnya sampailah ke Daehwa. Setelah makan siang dan menemukan bos Hadi, dilanjutkan dengan naik shuttle bus gratis dari Daehwa station ke Kintex, tempat nan sungguh besar. Setelah bayar tiket 9.000 won (setelah masuk, kalau keluar mesti bayar lagi), dengan wejangan satu kata dari ibu mabes: "Paiting!", berikut adalah foto-foto dari Seoul Motor Show. Kunjungan di akhiri dengan makan gratis di KBRI ketemu pak Menristek yang me-reveal kepanjangan dari Kuku Bima adalah "Kurang Kuat Bini Marah". Dan sampai kembali ke Daejeon jam 2 pagi, setelah bernegosiasi sama sopir taksi van (yang ternyata sudah pernah liburan ke Jakarta dan Bali -damn, saya aja belon pernah ke Bali!-) yang bersedia mengantar dengan bayaran ya...

Taksi Daejeon

Kutukan Daejeon ada 2: Norebang dan Taksi. Pas hari pertama datang ke Daejeon, malamnya langsung diculik ke norebang, dan dalam satu hari itu naik taksi 4 kali: 1) dari halte bis airport ke kampus, 2) dari department store ke kampus, 3) dari tempat norebang ke tempat orang korea melakukan ronde ke-3, dan terakhir, dari sana ke kampus. Makanya, sejak saat itu jadi lengket sama yang namanya norebang (walaupun sekarang sudah jarang... -_- ) dan taksi. Taksi Daejeon, sebagaimana umumnya taksi, berupa sedan, kebanyakan rada-rada lumayan sedan tipe yang bagus bagus (macam sonata, avante, lotze, etc.), mungkin karena ada kebijakan pemerintah yang mensubsidi peremajaan taksi buat membantu para pengusaha pabrik mobil (mungkin, tidak pernah dikonfirmasi kemana pun, cuma asumsi...). Mungkin karena kondisi jalan yang cantik, gak seperti di kota B di negara I yang hanya baik pada saat ada kunjungan pejabat dan sehabis pemilu dan bukan musim hujan, sopir-sopir di sini cenderung mengemudikan kendar...

Sintanjin

masih kecil kecil Festival bunga sakura (entah benar entah tidak, anggap saja begitu) di halaman dan sekitar kantor Korea Tobacco & Ginseng (KT&G) di Sintanjin, sebelah utara Daejeon. Selain ada kejuaraan Samulnori (tari-tarian pakai kendang dan leher digual-geol sehingga tali yang ada di topinya berputar-putar), juga ada panggung gembira, arena mainan tradisional, stand-stand bazaar yang menampilkan beragam seni prakarya, permainan tradisional dan makanan/minuman tradisional, juga stand-stand dagangan di pinggir jalan menyajikan makanan minuman berat dan ringan, arena ketangkasan, sampai assesori wanita dan toko serba seribu. Sakura-sakuranya sendiri benar-benar bermekaran karena pohon-pohonnya besar-besar. Cucok buat dijadikan studio foto dadakan. Postingan terkait ada di sini: http://hafizsan.multiply.com/photos/album/67/festival_sakura_ktg_sintanjin dan di sini http://valnuri.multiply.com/photos/album/55/Sintanjin_Festival ああ さくら満開 ねえ さくら満開 好き遇ぎるわ もう あなた以外の人は 目にも映らないみたい

Traditional Village Jeonju

Jalan-jalan ke Jeonju diajak ibu mabes mengunjungi desa tradisional Jeonju dan menikmati bibimbap pacileuhan serta menikmati dinginnya musim semi

Cara membikin arak ala Korea

Proses pembuatan wine alias arak alias khamr ala Korea yang disajikan di museum harom, eh museum wine Korea di Jeonju

Belajar high dynamic range

Melihat foto2 high dynamic range (hdr)-nya bos Hadi , dan melihat foto2 hdr lain di internet, saya jadi kepingin nyoba juga, dan akhirnya menyadari fungsi bracketing di kamera (ternyata selama ini kurang menggauli...:D ). Jadi intinya, seperti yang diberitahu di sini , kita menggabungkan beberapa foto dengan tingkat eksposure (exposure di bahasa Indonesia-in jadi apa ya..) yang berbeda-beda, lalu di atur tone mapping-nya (ya semacam itu lah, selanjutnya baca saja di wiki atau di mana tentang hdr ini) hasilnya seperti yang ada di sini. Ternyata bermanfaat untuk melawan cahaya terang dan membirukan langit seperti menggunakan filter circular polarize kata pak hulubalang Hendry (btw, itu filter udah lama gak dipake...). Di sini ada 4 foto. Foto pertama aslinya, foto kedua hasil gabungin 3 foto, hasilnya langitnya jadi lebih jelas. Foto ketiga aslinya, foto keempat hasilnya latar depan rumah-rumahnya jadi gak gelap dan langitnya tetap bagus. Masih harus belajar... biar lebih bagus.... dan...

Lausanne Trip

Perjalanan satu minggu alias 7 hari 8 malam ke Lausanne, Swiss sebagaimana yang wisata kulinernya sudah saya sampaikan di sini dan foto-foto kelayapan malam hari nya ada di sini , berikut ini adalah foto-foto selama perjalanan. Walaupun pas berangkat di Incheon dan sampai di Paris cuaca cerah, tapi pas mau ke Geneva kena delay karena katanya ada salju deras di sana, akhirnya telat 1 jam sampai Geneva. Lebih keren lagi, ternyata pas sampai Geneva... kok... koperku tak ada di mesin bagasi yg muter2 itu... pas di tanya ke kantor kehilangan, ealah, ternyata masih nyangkut di Paris... XD Akhirnya diberitahu bahwa kopernya akan diantarkan sampai hotel tujuan di Lausanne, dan langsung cabut naik kereta. Yah, ada untungnya juga sih, jadi gak usah repot2 malam2 di tengah salju narik2 koper dari stasiun kereta ke hotel. Masalahnya, pas besoknya, di Paris justru kena badai salju (terusan dari Inggris kayaknya)! Akhirnya koperku malang ngendon satu hari di Paris. Akibatnya, malam Selasa mencuci k...