Skip to main content

Posts

Bis kota Daejeon

Melupakan sejenak hidden Markov model...saya ingin sedikit cerita tentang bis kota di Daejeon. Di negri serba teratur ini (kecuali ajuma-ajuma yang suka nyebrang jalan sembarangan ^^;;;), transportasi umum lumayan nyaman digunakan. Terutama bis kota, yang nyaris jadi mobil pribadi saya buat jalan-jalan keliling kota walaupun tak sampai bisa duduk di samping pak supir yang sedang bekerja mengendarai bis supaya baik jalannya. Rute bis kota Daejeon boleh dibilang mirip rute angkot di Bandung: dari tengah kota sampai ke pinggir kota, dari tengah gunung sampai ke pinggir sungai, semua ada. Tentu saja, untuk beberapa rute kita harus transit (cieh, transit) dari satu rute ke rute lain, juga terkadang harus jalan beberapa puluh meter untuk mencapai halte bis terdekat, termasuk juga menunggu bis nya datang. Untungnya bis kota Daejeon lumayan tepat waktu. Di hampir tiap halte kita bisa melihat bus apa yang akan datang berapa menit lagi dan posisi terakhir ada di mana. Kebanyakan bis datang sek...

Cheongnamdae, Presidential Retreat

Seperti di Indonesia, presiden Korea pun punya tempat2 peristirahatan di luar ibu kota. Kalau yang satu ini letaknya di tengah hutan, di kaki gunung, di pinggir danau (semuanya nyampur, bingung dah..). Tempat bernama Cheongnamdae ini letaknya sekitar 30 menit (20 menit kalau sopir nya ngebut) dari kota kecil Muneui di sisi sebelah utara danau Daecheong, sekitar 20 km lebih dari Daejeon. Untuk menyambangi Cheongnamdae, kita mau tak mau harus menaiki bis yang khusus disediakan dari Muneui ke sana, tersedia setiap 20 menit, karena aturannya demikian. Ongkos pulang pergi 2,400 won dan tiket masuknya sendiri 5,000 won. Pergi ke Muneui sendiri cukup merepotkan kalau gak punya kendaraan sendiri. Mesti naik bis desa Cheongju yang tersedia 1 jam sekali dari Sintanjin, sebelah utara Daejeon. Si Cheongnamdae ini dulunya tempat presiden Korea menikmati libur musim panas, tapi kemudian dibuka untuk publik oleh presiden Roh (serem banget namanya). Begitu turun bis, kita akan disambut guide yang menj...

(maksudnya pergi ke) Floritopia 2009

Tapi namun apa daya nasib tidak beruntung. Tadinya diajak kunjungan gratis ke Floritopia di Anmyeon-do dari Asan, bareng para pekerja2 Korea, Filipina, Bangladesh, etc etc (Indonesia juga). Ternyata malah mutar balik gara2 macet, akhirnya diarahkan ke pantai (sekitar Anmyeon-do sepertinya, tapi entah di mana) dimana sebuah Tanah Lot-wannabe berada dan dilanjutkan ke gunung entah apa di sekitar sana juga. Plus menyaksikan 2 kakek-kakek Korea brengsek yang mabok di dalam bis yang teriak-teriak minta norebang akhirnya diturunkan di tengah jalan. Memang alkohol itu sumber dari segala maksiat...

Bomun Mountain

Sehubungan hari ini hari anak nasional (Korea) dan tidak hujan, maka saya putuskan untuk jalan-jalan hiking di gunung. Kali ini korbannya adalah gunung Bomun (Bomunsan) di selatan Daejeon yang punya dua puncak (alias dua gazebo di titik paling atas) yang satu puncak Bomunsan-nya, yang satu lagi Bomunsan Fortress (Bomunsan-seong). Jaraknya masing-masing terpisah 1.2 km. Di kaki gunung ada plaza tugu pahlawan mengenang para pejuang PBB merebut Daejeon dari cengkraman Korut. Dan di bawahnya lagi ada tempat wisata (amusement park) plus taman renang seperti Karang Setra, yang dua2nya sudah dismissed, hanya tinggal kenangan, termasuk gondolanya. Waktu tempuh: 4 jam sahaja pulang pergi (+ ambil napas, makan tomat, foto2). Pulangnya salah naik bis, menyasarkan diri di depot subway Daejeon.

Seoul Motor Show, The Girls

Warning: banyak udel dan paha, jadi kalau tidak berkenan di skip saja entry ini

Seoul Motor Show

Kunjungan ke Seoul Motor Show di Kintex, di ujung line 3 di Daehwa, nun jauh di sana. Setelah menempuh jalan darat 30 menit dari dorm ke stasiun bis Daejeon, lalu 1.5 jam naik bus dari Daejeon ke Gangnam, dilanjutkan naik subway selama 1 jam lebih dari Gangnam akhirnya sampailah ke Daehwa. Setelah makan siang dan menemukan bos Hadi, dilanjutkan dengan naik shuttle bus gratis dari Daehwa station ke Kintex, tempat nan sungguh besar. Setelah bayar tiket 9.000 won (setelah masuk, kalau keluar mesti bayar lagi), dengan wejangan satu kata dari ibu mabes: "Paiting!", berikut adalah foto-foto dari Seoul Motor Show. Kunjungan di akhiri dengan makan gratis di KBRI ketemu pak Menristek yang me-reveal kepanjangan dari Kuku Bima adalah "Kurang Kuat Bini Marah". Dan sampai kembali ke Daejeon jam 2 pagi, setelah bernegosiasi sama sopir taksi van (yang ternyata sudah pernah liburan ke Jakarta dan Bali -damn, saya aja belon pernah ke Bali!-) yang bersedia mengantar dengan bayaran ya...

Taksi Daejeon

Kutukan Daejeon ada 2: Norebang dan Taksi. Pas hari pertama datang ke Daejeon, malamnya langsung diculik ke norebang, dan dalam satu hari itu naik taksi 4 kali: 1) dari halte bis airport ke kampus, 2) dari department store ke kampus, 3) dari tempat norebang ke tempat orang korea melakukan ronde ke-3, dan terakhir, dari sana ke kampus. Makanya, sejak saat itu jadi lengket sama yang namanya norebang (walaupun sekarang sudah jarang... -_- ) dan taksi. Taksi Daejeon, sebagaimana umumnya taksi, berupa sedan, kebanyakan rada-rada lumayan sedan tipe yang bagus bagus (macam sonata, avante, lotze, etc.), mungkin karena ada kebijakan pemerintah yang mensubsidi peremajaan taksi buat membantu para pengusaha pabrik mobil (mungkin, tidak pernah dikonfirmasi kemana pun, cuma asumsi...). Mungkin karena kondisi jalan yang cantik, gak seperti di kota B di negara I yang hanya baik pada saat ada kunjungan pejabat dan sehabis pemilu dan bukan musim hujan, sopir-sopir di sini cenderung mengemudikan kendar...

Sintanjin

masih kecil kecil Festival bunga sakura (entah benar entah tidak, anggap saja begitu) di halaman dan sekitar kantor Korea Tobacco & Ginseng (KT&G) di Sintanjin, sebelah utara Daejeon. Selain ada kejuaraan Samulnori (tari-tarian pakai kendang dan leher digual-geol sehingga tali yang ada di topinya berputar-putar), juga ada panggung gembira, arena mainan tradisional, stand-stand bazaar yang menampilkan beragam seni prakarya, permainan tradisional dan makanan/minuman tradisional, juga stand-stand dagangan di pinggir jalan menyajikan makanan minuman berat dan ringan, arena ketangkasan, sampai assesori wanita dan toko serba seribu. Sakura-sakuranya sendiri benar-benar bermekaran karena pohon-pohonnya besar-besar. Cucok buat dijadikan studio foto dadakan. Postingan terkait ada di sini: http://hafizsan.multiply.com/photos/album/67/festival_sakura_ktg_sintanjin dan di sini http://valnuri.multiply.com/photos/album/55/Sintanjin_Festival ああ さくら満開 ねえ さくら満開 好き遇ぎるわ もう あなた以外の人は 目にも映らないみたい

Traditional Village Jeonju

Jalan-jalan ke Jeonju diajak ibu mabes mengunjungi desa tradisional Jeonju dan menikmati bibimbap pacileuhan serta menikmati dinginnya musim semi

Cara membikin arak ala Korea

Proses pembuatan wine alias arak alias khamr ala Korea yang disajikan di museum harom, eh museum wine Korea di Jeonju

Belajar high dynamic range

Melihat foto2 high dynamic range (hdr)-nya bos Hadi , dan melihat foto2 hdr lain di internet, saya jadi kepingin nyoba juga, dan akhirnya menyadari fungsi bracketing di kamera (ternyata selama ini kurang menggauli...:D ). Jadi intinya, seperti yang diberitahu di sini , kita menggabungkan beberapa foto dengan tingkat eksposure (exposure di bahasa Indonesia-in jadi apa ya..) yang berbeda-beda, lalu di atur tone mapping-nya (ya semacam itu lah, selanjutnya baca saja di wiki atau di mana tentang hdr ini) hasilnya seperti yang ada di sini. Ternyata bermanfaat untuk melawan cahaya terang dan membirukan langit seperti menggunakan filter circular polarize kata pak hulubalang Hendry (btw, itu filter udah lama gak dipake...). Di sini ada 4 foto. Foto pertama aslinya, foto kedua hasil gabungin 3 foto, hasilnya langitnya jadi lebih jelas. Foto ketiga aslinya, foto keempat hasilnya latar depan rumah-rumahnya jadi gak gelap dan langitnya tetap bagus. Masih harus belajar... biar lebih bagus.... dan...

Lausanne Trip

Perjalanan satu minggu alias 7 hari 8 malam ke Lausanne, Swiss sebagaimana yang wisata kulinernya sudah saya sampaikan di sini dan foto-foto kelayapan malam hari nya ada di sini , berikut ini adalah foto-foto selama perjalanan. Walaupun pas berangkat di Incheon dan sampai di Paris cuaca cerah, tapi pas mau ke Geneva kena delay karena katanya ada salju deras di sana, akhirnya telat 1 jam sampai Geneva. Lebih keren lagi, ternyata pas sampai Geneva... kok... koperku tak ada di mesin bagasi yg muter2 itu... pas di tanya ke kantor kehilangan, ealah, ternyata masih nyangkut di Paris... XD Akhirnya diberitahu bahwa kopernya akan diantarkan sampai hotel tujuan di Lausanne, dan langsung cabut naik kereta. Yah, ada untungnya juga sih, jadi gak usah repot2 malam2 di tengah salju narik2 koper dari stasiun kereta ke hotel. Masalahnya, pas besoknya, di Paris justru kena badai salju (terusan dari Inggris kayaknya)! Akhirnya koperku malang ngendon satu hari di Paris. Akibatnya, malam Selasa mencuci k...

Wisata Kuliner Lausanne, Part Deux

Dibandingkan kali pertama , wisata kuliner kali ini lebih mendingan. Kalau dulu setiap malam makan kebab, kali ini ada peningkatan sedikit (juga peningkatan biaya sedikit karena nilai tukar won terhadap franc semakin lemah... sedihnya...), walaupun tetap hampir tiap malam juga makan kebab yang sama di warung yang sama, sehingga saya pikir si bapak berwajah keturki-turkian itu jangan2 menanti saya tiap malam... :D Tapi demikian pun, makan siangnya juga lumayan mendingan, meski di hari Senin tetap makan kebab dibungkus kulit, dan malamnya kembali makan kebab. Karena diberi voucher makan siang bernilai 20 franc sehari, makan siang bisa agak2 mewah. Hari Selasa makan siang dengan ikan trout rebus dengan kentang dan wortel kukus. Ikan trout-nya sih biasa-biasa saja, tapi bumbu wortelnya lumayan enak. Malam? Kebab lagi ^_^. Hari Rabu, makan chicken cutlet dengan makaroni dan saus tomat dilengkapi dengan sayur kol yang di-mashed. Malamnya? Tidak kebab! Soalnya ikut acara social event naik p...

I Wanna See You Now

Rating: ★★★★ Category: Music Genre: Jazz Artist: Leon Haines Band Ini satu2nya album dari band yang sudah tidak terdengar lagi kabarnya. Tahun 80an di Indonesia sempat ngetop dengan lagu "For You to Remember", dan tahun2 95an lagu "I Wanna See You Now" nya sempat ngetop lagi di radio Rase, Bandung karena potongan intro-nya jadi iklan acara "All Hits All Memories" di sana (acaranya setiap malam apa yah.. lupa.. tapi dulu selalu dinantikan sambil belajar menuju UMPTN.. ueheh.. masa lalu..). Dulu tahun segitu sempat ketemu albumnya di Aquarius Bandung, waktu harga kaset masih 7000 perak. Tapi pada suatu hari dipinjam sepupu, dan tidak kembali lagi sampai hari ini. Dulu pernah mencari di Cihapit dan depan mesjid Salman (tempat dimana ditemukan kaset album Nika Costa-pun!), tak pernah ketemu. Sejak menemukan internet pun, belum pernah berhasil menemukan mp3 nya kecuali beberapa lagu yang memang sering terdengar: dua yang tadi saya sebut di depan, dan satu lagu ...

Paris CDG, Terminal E

Setelah seminggu sebelumnya terpesona dengan keberadaan laptop dan internet gratis di Concourse A bandara Incheon, jadi Sabtu kemarin lebih terpesona dengan keberadaan konsol Playstation 3 gratis di terminal E bandara Charles de Gaule Paris (walaupun tidak terpesona dengan internet yang mesti bayar 3 euro per 30 menit, belum lagi harga barang2 duty free yang masih lebih mahal dari di kota). Ada empat konsol PS3 lengkap dengan TV layar datar ukuran 30an inci dengan dua joystick yang bisa digunakan secara gratis bagi penumpang yang sedang nunggu pesawat. Gamenya kalau gak salah ada sekitar 10 atau 8, gak ngitung... dan semuanya versi demo (heheh.. apa yang bisa diharapkan dari sesuatu yang gratis?). Ada Gran Turismo, ada FIFA 2008 (apa 2009, lupa), NBA street, trus F1, lalu game balapan di bukit berbatu, game robot2an, trus apa lagi yah.. gak begitu paham game2nya PS3. Not bad lah... pe-es.. foto2 menyusul.. masih hibernasi..

Lausanne Tour, la nuit

Kembali ke Lausanne, yang pertama foto2nya ada di sini . Mungkin ada foto2 yang rada2 mirip. Jalan-jalan di sekitar hotel yang letaknya di tengah-tengah kota, hotel bintang satu yang nyaman dan lumayan murah. Pulangnya beli kebab ayam.

Incheon Airport, Concourse A

Sebagaimana di-request para pembaca setia yang budiman, berikut adalah foto-foto dari Concourse A di bandara Incheon

Incheon airport

Terakhir kali ke bandara Incheon, ke departure area-nya, sekitar bulan April 2008. Sekarang kembali ke sana lagi sudah ada yang baru. Sepertinya penerbangan non-Korean Air atau Asiana dipindahkan ke gedung baru yang diberi nama Concourse A (CA). Gedung ini letaknya agak jauh dari gedung utama, jadi ada subway yang namanya Starline yang menghubungkan gedung utama dan CA. Senangnya lagi, di CA ternyata ada free internet lounge. Selain bisa ber wireless ria dengan gratis, di sana juga disediakan laptop-laptop untuk digunakan secara gratis (di pengumumannya sih maksimal 30 menit, tapi klo sepi boleh berjam-jam kali yah...). Tempat duduknya juga enak, berbentuk sofa dengan laptopnya ditaruh di meja yang bisa digeser-geser. Satisfaction guaranteed :D

Detik.com butuh editor

Dicari: editor buat detik.com biar gak typo melulu... Screenshot dari http://www.detikinet.com/read/2009/01/30/142720/1076816/317/ssstt-ini-dia-bocoran-fitur-baru-di-windows-7 pada tanggal 30 Januari 2009 jam 5 sore lebih.

Daejeon Worldcup Stadium, etc

Tema tur hari ini adalah mengikuti kemana kaki melangkah. Tau2 sudah naik bis nomer 121 dan turun di halte World cup stadium. Karena selama tinggal di Daejeon belum pernah ke sana pun, jadi dipikir2 okelah... tempat yang nostalgic karena Italia kalah 2-1 waktu piala dunia 2002 di sini.. hueheheh (tertawa bahagia). Oh yang lebih mengejutkan, ternyata di pelataran lantai dua stadion ini, ada pagar dinding pembatas, di sana ditempel tegel-tegel ukuran kira2 20x20 cm2 yang sudah diisi grafiti dari (sepertinya) masyarakat Daejeon. Grafiti2 itu hampir semua (atau mungkin semua, eh nggak deng, ada juga yg nulis welcome to korea dan sejenisnya) bertema menyemangati timnas Korea, kebanyakan dilengkapi dengan gambar2 kartun seperti shinchan, totoro juga ada, hamtaro, mashimaro, dan lain-lain. Setelah puas memotret di tengah salju dan angin yang dingin, ketika pulang, saat turun tangga jembatan penyebrangan, eh ada tabrakan mobil (umum sih di sini), jadi di abadikan dulu. Pulangnya mampir di outl...